Mitos dan Realitas Pasar Forex

Image

Penulis: Andrey Vedikhin

Diterbitkan: 30/06/2004

 

Kutipan klasik dari Alexander Elder, "How to Play and Win on the Market" (Bagaimana Cara Bermain dan Menang di Pasar):

"Jika seorang teman Anda tidak memiliki banyak pengalaman dalam bertani, tiba-tiba mendatangi Anda dan berkata bahwa dia sedang berencana untuk menghidupi dirinya dari hasil bercocok tanam di seperempat bidang tanah, dan Anda tahu bahwa dia akan menderita kelaparan. Kita semua pasti bisa membayangkan seberapa banyak sumber yang akan didapat dari tanah seluas itu. Akan tetapi, di dalam dunia trading, pertumbuhan manusia dari anak-anak hingga menjadi orang dewasa akan mengembangkan imajinasi mereka."

Ketika seorang pemula menerima beberapa pukulan dan modalnya jatuh di bawah margin yang diminta, sontak dia akan mulai kehilangan keteguhannya, merasa ketakutan dan mulai menyimpulkan berbagai macam pikiran yang negatif tentang pasar keuangan. Dia layaknya anak kecil yang merasa ketakutan bila berjalan menelusuri sebuah pemakaman atau ketika hendak mengintip sesuatu di kolong tempat tidurnya, dia takut bahwa hantu akan muncul atau mengintainya. Sifat pasar keuangan yang tidak terstruktur ini menjadi sebuah lahan yang subur untuk menumbuhkan angan-angan.

Dan fantasi kita dapat mempengaruhi perilaku kita, bahkan ketika kita tidak menyadari keberadaan mereka sekali pun. Seorang trader yang sukses terlebih dahulu harus dapat mengenali fantasinya sebelum melepaskannya.

Dealer Curang dan Mitos Lain tentang Cara Kerja Boker

Terdapat tiga cara kerja sebuah dealing center.

1. Tak satu pun posisi klien dilindungi (hedged) dengan counteragent luar. Dalam kasus ini, kepentingan dealer ialah kerugian klien, sebaliknya keuntungan klien justru akan menguras kantong dealer. Di Rusia pada era 90-an, dealer-dealer yang mempraktikkan sistem seperti ini disebut sebagai “kukhnya” (jika diterjemahkan berarti “dapur”) untuk menggambarkan sebuah dealer yang memiliki anggaran rendah dan tidak mempunyai jam terbang yang tinggi. Dan itu benar bahwa, banyak perusahaan dealing beroperasi dengan metode seperti ini pada tahun-tahun pertamanya karena mereka belum memiliki volume trading yang cukup besar untuk dapat melindungi nilai posisi-posisi para klien di pasar Forex interbank (standar lot adalah 0,5 jt). Bagi dealer-dealer yang masih “muda” akan menanggung risiko yang berat jika salah seorang klien memenangkan trading dalam jumlah yang besar, sementara perusahaan tidak mampu memenuhi kewajibannya. Guna mengurangi risiko semacam ini, dealer-dealer seperti ini justru mengambil langkah dengan cara “membantu” para klien agar mereka kalah dalam bertransaksi, sebuah praktik yang merusak citra perindustrian secara umum.

Pada akhir 90-an, pusat dealing di Rusia jumlahnya semakin berkurang, mayoritas mereka tidak memiliki jumlah klien yang mencukupi untuk melindungi posisi-posisi klien di pasar yang lebih besar. Sebagai akibatnya, untuk meminimalkan keuntungan klien pada biaya akhir (bottom line) perusahaan, banyak dealer melakukan pekerjaan yang tidak jujur terhadap trading para klien. “Slippage”, yakni pemenuhan order-order pada harga yang kurang menguntungkan bagi klien, ini merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh dealer untuk menggagalkan usaha klien mereka secara halus. Dealer-dealer yang lahir di awal 90-an dan mampu bertahan lama telah memperoleh basis klien dengan jumlah yang besar. Dan karena perusahaan-perusahaan yang lebih besar umumnya tidak ingin mengorbankan reputasinya dengan membuat lompatan yang cepat (dalam hal ini proses quoting) terhadap biaya klien mereka, maka praktik dealing yang tidak jujur dipindahkan menjadi sebuah pergeseran anggaran yang rendah, sebuah dealing centeryang curang (fly-by-night).

Ketika dealer berhasil memperoleh massa klien dalam jumlah besar dan telah banyak belajar dari pengalamannya, beberapa hal-hal menjadi mudah untuk dipahami, antara lain sbb:

  • Dalam jangka panjang, keuntungan operasi "fly-by-night" (yang bekerja berlawanan dengan klien) ternyata akan sama seperti ketika mereka memperoleh profit dari spread (fakta bahwa keuntungan dan kerugian perusahaan atas kliennya malah akan menyeret mereka dalam waktu yang lama). Dan pada akhirnya, basis klien yang lebih besar menjadi satu-satunya cara untuk memajukan perusahaan, dan tentunya tak lepas dari reputasi perusahaan itu sendiri.
  • Sebuah reputasi yang baik dan keberadaan klien dalam jangka panjang alhasil menjadi lebih menguntungkan daripada keuntungan jangka pendek yang diperoleh melalui kegagalan klien dalam berdagang. Oleh karena itu, meski dealer-dealer masih memproses segala sesuatunya secara internal, pada akhirnya masih saja menjalankan praktik yang tidak etis (eksekusi yang buruk, menarik stop loss dll.), yang menjadi ciri-ciri dari golongan fly-by-night.
  • Perusahaan menjadi lebih berharga dan manajemen tidak ingin kehilangan hal tersebut hanya karena keuntungan yang didapat oleh beberapa klien.
  • Jumlah akun klien semakin bertambah (tanda positif untuk membangun reputasi yang baik) dan bahkan beberapa klien dengan deposito besar mulai bermunculan, kebanyakan di antaranya telah sukses dan memiliki pengalaman yang lebih profesional serta pelatihan yang lebih baik.

Sebagai dealing center yang sedang tumbuh, manajemen perusahaan mulai memikirkan posisi lindung nilai klien, dan sebagai kelanjutannya, mereka bergerak ke model bisnis yang kedua.

2. Lindung nilai terhadap posisi klien secara keseluruhan. Ini memiliki arti bahwa seluruh posisi klien (jumlah yang disepakati sebelumnya) dikenakan lindung nilai di pasar utama. Hal ini tentunya dapat menghapus citra buruk perusahaan terkait motif "perlawanan" terhadap klien. Mulai sekarang, klien-klien yang sukses tidak lagi mengantarkan perusahaan ke ambang kehancuran.

3. Melakukan lindung nilai untuk setiap posisi klien di pasar interbank. Dari sudut pandang klien, model ini tidak memiliki keuntungan jika dibandingkan dengan model kedua di atas. Beberapa kekurangannya antara lain:

  • Persyaratan saldo awal pada akun yang sangat besar dan jumlah transaksi yang minimum;
  • Eksekusi yang lebih lambat.

Saat artikel ini ditulis, Alpari telah memiliki klien dengan jumlah lebih dari 7.200 orang. Dengan total jumlah tersebut, Alpari bisa menggunakan model dealing yang kedua.

Mitos Bahwa Mustahil Menghasilkan Uang di Forex

Banyak yang mengatakan bahwa 90% dari mereka yang berdagang dengan menggunakan pinjaman dari broker (leverage) di pasar keuangan pada akhirnya mengalami kerugian. Sayangnya, hal itu memang benar. Mari kita pelajari hal-hal apa saja yang menyebabkan para trader ini kehilangan modalnya. Jika kita menganalisis bagaimana para “90%” trader tersebut melakukan trading, kita bisa menyimak beberapa kesimpulan mengenai kesalahan yang umum dilakukan oleh para trader yang gagal, antara lain sbb:

  • Tidak memiliki pemahaman dasar-dasar analisis. Trader yang gagal kurang memahami dasar-dasar analisis, baik itu secara fundamental maupun teknikal.
  • Tidak mengerti filosofi di balik perdagangan. Saya akan menjelaskannya melalui sebuah contoh yang saya akan ambil dari pengalaman saya sendiri. Ketika saya masih menjadi seorang analis teknikal muda, dan saat itu saya menganalisis sebuah mata uang, yakni Yen. Saya melihat grafik mingguannya, seluruh indikator mengarah ke bawah, grafik harian pun menunjukkan hal yang sama, grafik selama 4 jam–juga sama, 5 menitan–masih sama. Saya pikir itu bagus, semuanya menunjuk ke satu arah. Saya membuka posisi. Hasilnya? Sengsara! Keyakinan saya dalam hal analisis membuat saya syok berat. Saya pergi untuk mencari sebuah bir dan berpikir banyak tentang apa yang baru saja terjadi. Saya menyadari bahwa itu bukan analisis teknikal yang salah, melainkan diriku. Grafik-grafik mingguan dan harian menunjukkan bahwa pergerakan pasar (trend) secara keseluruhan turun. Kerangka waktu (timeframe) yang terpendek menunjukkan bahwa pergerakan arah tren telah terjadi dan tampaknya telah muncul. Saat yang ideal untuk menjual, seandainya grafik mingguan dan harian turun, tetapi grafik selama 4 jam ternyata naik (bullish) dan grafik per jamnya menunjukkan bahwa gerakan ke atas telah berhenti (misalnya, ketika tren naik telah terbagi).
  • Belum memahami aturan Money Management:

    • Tidak menerapkan stop loss sama sekali.
    • Penempatan stop loss terlalu dekat dengan harga masuk (entry price). Order stop loss di pasar Forex tidak boleh kurang dari 40-50 pip dari harga masuk. Stop lossyang ditempatkan terlalu dekat sering kali menghadirkan "bencana", karena Anda sangat tidak mungkin dapat mencapai bagian atas atau bawah ketika Anda memasuki pasar (sekali pun Anda yakin bahwa analisis Anda benar, di sana mungkin terdapat beberapa pergerakan awal harga yang berlawanan dengan prediksi Anda). Ini bisa terjadi sekitar 10-15 pip. Ditambah 5 pip dari spread. Dan jika Anda memperhitungkan market noise (10-15 pip), maka order stop loss yang ditempatkan kurang dari 40-50 pip dari harga masuk–hampir tidak akan memiliki ruang untuk mempertahankan posisi.
    • Tidak memperhatikan rasio antara Profit/Loss sebesar 2/1.
    • Berusaha untuk memancang profit dari 5 pip, tetapi bersedia merugi hingga 100 pip atau bahkan lebih. Dalam hal ini, Anda membutuhkan 20 transaksi yang membuahkan profit, yang hanya ditujukan untuk menutupi kerugian yang diderita untuk satu transaksi yang merugi. Ini berarti bahwa persentase keberhasilan melebihi 95%–sesuatu yang bahkan Soros pun tidak mampu melakukannya. Analis profesional memprediksi tingkat ketepatannya dengan presentase 75-80%.
    • dll.
  • Mendasarkan trading dengan tingkat fluktuasi yang sangat kecil. Saya pikir bahwa pasar memantulkan noise sekitar 10 pip (order besar ditempatkan pada bank yang membenturkan harga naik atau turun sebesar 5 pip setelah harga kembali ke level sebelumnya. Ditambah lagi, beberapa market makers memperlihatkan harga yang sediki berbeda). Mari kita anggap ini sebagai aksioma (kebenaran tanpa pembuktian). Itu berarti bahwa:

    • Analisis dengan timeframe per menit memungkinkan Anda untuk menangkap pergerakan pada 15 pip. Dengan 66% merupakan market noise (10 pip).
    • Analisis dengan timeframe per 5 menit memungkinkan Anda untuk menangkap pergerakan pada 30 pip. Dengan 33% merupakan market noise.
    • Analisis dengan timeframe per jam memungkinkan Anda untuk menangkap pergerakan pada 100 pip. Dengan 10% merupakan market noise.
    • Analisis dengan timeframe per hari memungkinkan Anda untuk menangkap pergerakan pada 500 pip. Dengan 2% merupakan market noise.
  • Angka-angka tersebut merupakan analisis hipotetis saja. Yang terpenting di sini ialah konsepnya. Dengan demikian, kita akan memiliki banyak waktu untuk memprediksimarket noise ketika hendak menganalisis periode waktu yang singkat. Market noise sulit untuk diprediksi–meskipun pasar dapat diprediksi–itulah sebabnya mengapa kita harus menganalisis waktu dengan periode yang lebih lama.
  • Jika Anda belum juga berhasil berdagang di Forex, maka perhatikan dan renungi dengan baik apa yang telah saya tuliskan di atas dan tariklah kesimpulan Anda sendiri dengan bijak. Agar berhasil berdagang di pasar Forex, maka Anda harus memiliki beberapa pengetahuan tertentu. Selain itu, Anda juga perlu memahami pedoman atau aturan tertentu, terutama yang berkaitan dengan manajemen keuangan (money management).

Mitos tentang Minimnya Jumlah Broker di Perusahaan Pialang, atau Mengapa Butuh Waktu Lama untuk Mengeksekusi Transaksi pada Periode Fluktuasi Harga yang Besar?

Penundaan dapat disebabkan oleh hal-hal berikut:

  • Perangkat lunak (software) atau jaringan tidak dapat menangani laju lalu lintas perdagangan selama periode pergerakan harga yang besar.
  • Jumlah pegawai broker sedikit.

Pertanyaannya lain, mengapa broker yang tidak memiliki masalah atau kekurangan seperti yang disebutkan di atas terkadang masih saja mengalami penundaan saat hendak memproses order?

Model bisnis yang paling umum diterapkan oleh perusahaan besar ialah model seperti pada cara kerja No.2 (lihat di atas), yakni perusahaan melindungi nilai posisi klien dengan counteragent dari luar. Ketika kondisi pasar tenang, broker mampu memproses transaksi klien secara langsung dan kemudian memperhatikan lindung nilai di dalam pasar yang lebih besar (jika diperlukan). Tidak ada alasan untuk tergesa-gesa, bahkan broker mungkin bisa melakukan lompatan untuk beberapa pip, lebih baik daripada yang dimiliki oleh kliennya.

Tapi semuanya berbeda saat pasar bergejolak. Posisi klien segera mungkin perlu dikenakan lindung nilai, jika tidak, harga akan lenyap dan broker bisa mengalami kerugian. Oleh karena itu, order-order klien diproses pada saat yang bersamaan dengan penerapan lindung nilai oleh perusahaan terhadap posisi klien di pasar yang lebih besar. Tentu saja, pemrosesan order-order klien tersebut akan membutuhkan waktu yang lebih lama. Namun, di sini kita harus menganggapnya sebagai "pembayaran yang wajib dipenuhi" apabila bekerja dengan sebuah perusahaan yang terpandang dan yang tidak bekerja melawan klien.

Mitos tentang Minimnya Modal

Saya akan mengutip ulang kalimat Elder:

"Banyak trader gagal berpikir bahwa mereka akan berhasil jika memiliki lebih banyak modal. Kebanyakan trader semacam itu akan terdepak dari permainan untuk serangkaian kegagalan atau bahkan untuk satu transaksi yang gagal. Hal lain yang juga acap kali terjadi ialah setelah trader amatir ini menutup semua posisinya, pasar justru bergerak ke arah yang dia telah antisipasi. Trader yang malang ini pun kecewa kepada dirinya sendiri atau kepada brokernya, "Seandainya saja aku bisa bertahan seminggu lagi, pasti nasibku akan bisa menjadi lebih baik".

Para trader yang gagal mengartikan ini sebagai pembenaran dari metode mereka. Sehingga mereka mencari modal (atau meminjam) untuk membuka akun yang lain. Akan tetapi cerita yang sama terulang kembali. Trader tersebut terlempar dari arena, dan menyaksikan dari luar arena sebuah pasar yang bergerak jauh dengan arahnya, kemudian meyakini analisisnya sudah benar, hanya sedikit terlambat. Pada momen ini, dia pun kembali berangan-angan, "Seandainya saja aku memiliki jumlah modal akun yang lebih besar, pasti aku akan dapat bertahan lebih lama dan meraup profit".

Beberapa trader mengumpulkan modalnya dari para kerabat dengan menunjukkan rekam grafiknya sebagai bukti bahwa mereka tahu apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Namun, meskipun para trader yang malang ini memperoleh tambahan modal yang lebih besar, mereka tetap akan berpotensi kehilangan modal tersebut.

Masalah terbesar bagi trader yang gagal bukanlah terletak pada kurangnya modal, melainkan minimnya pemahaman tentang bagaimana cara melakukan trading. Seorangtrader yang rapuh bisa melakukannya melalui akun yang bermodal besar secepat yang kecil. Dia memainkannya terlalu berlebihan dan melalaikan aturan manajemen keuangan. Trader yang malang ini sering menempatkan posisi yang terlalu berisiko di pasar, bahkan dengan akun yang bermodalkan lebih besar. Terlepas dari seberapa hebat strategi yang dimiliki oleh para trader, melakukan transaksi dengan tingkat risiko yang tinggi pada modal akun, tentunya akan sangat berpotensi mendatangkan bencana, apalagi jika transaksi tersebut tidak berpihak kepada Anda, maka Anda secara menyedihkan akan terlempar dari arena permainan.

Saya sering menerima pertanyaan tentang berapa besar jumlah uang yang harus dimiliki agar dapat memulai trading. Mereka ingin memiliki modal yang cukup untuk dapat bertahan hingga memasuki periode penurunan. Mereka khawatir bahwa mereka akan kehilangan banyak uang sebelum memulai apa pun. Angan-angan ini ibarat seorang insinyur yang berencana membangun sebuah jembatan namun sudah runtuh sebelum selesai membuatnya. Dapatkah seorang ahli bedah membunuh beberapa pasiennya sebelum dia menjadi seorang ahli apendisitis?

Seorang amatir mungkin belum bisa membayangkan bahwa dia akan mengalami kerugian dan tidak siap untuk menangani situasi seperti itu. Sebuah pendapat yang meyakini bahwa kegagalan yang disebabkan oleh jumlah modal yang minim merupakan ikhtisar yang salah, karena ini justru bisa menjadi sebuah perangkap yang akan menjauhkan diri Anda dari dua hal yang sangat penting, yakni kedisiplinan dan rencana realistis dalam mengelola dana.

Salah satu keuntungan dari akun yang memiliki modal besar ialah biaya start-up yang relatif lebih kecil untuk akun Anda. Andai Anda mengelola dana dengan jumlah satu juta dolar dan menghabiskan $10.000 untuk beberapa komputer dan berbagai seminar, Anda hanya butuh 1% untuk menutupi biaya tersebut. Tetapi, jika Anda hanya memiliki modal $20.000 saja, maka untuk pengeluaran yang sama, Anda akan butuh 50% dari jumlah modal Anda.

Mitos tentang Otopilot

Kita ambil contoh, seorang yang tak dikenal datang kepada Anda ketika Anda sedang berada di sebuah garasi pribadi dan orang tersebut ingin menawarkan kepada Anda sebuah sistem kemudi otomatis. "Hanya dengan beberapa ratus dolar saja, Anda sudah bisa mendapatkan cip komputer ini yang nantinya akan mengambil kendali kemudi mobil Anda." Anda cukup duduk dan tidur saat Anda berpergian dengan mobil tersebut. Anda mungkin akan menertawakan tawaran seperti itu. Tetapi, akankah Anda tertawa jika seseorang menawarkan kepada Anda sistem otomatis untuk berinvestasi di pasar keuangan?

Trader yang percaya pada mitos "otopilot" akan berpikir bahwa untuk menghasilkan uang pun dapat dilakukan secara otomatis. Beberapa di antaranya mencoba untuk membuat sistem otomatis sendiri, sedangkan yang lain membeli yang sudah siap pakai. Orang-orang yang mengasah ketrampilan trading mereka selama bertahun-tahun, mulai dari seorang pengacara, dokter hingga pengusaha mencoba untuk membelinya dengan nilai yang setara dengan pengalaman mereka, yakni hanya demi sebuah sistemtrading otomatis. Golongan ini umumnya diselimuti dengan keserakahan, kemalasan dan kesalahan besar dalam memahami sebuah hal yang matematis.

Dahulu kala, sistem seperti ini ditulis di atas secarik kertas, dan saat ini sistem tersebut sudah disimpan di dalam sebuah disk yang terlindungi. Beberapa di antaranya diterapkan dengan cara yang sangat sederhana, sementara yang lain cukup kompleks, dengan pengoptimalan built-in dan aturan manajemen keuangan. Banyak tradermencari peruntungan–sebuah upaya untuk mengubah baris-baris kode menjadi sumber uang yang tak akan pernah berhenti mengalir. Mereka yang mengeluarkan biaya demi sebuah sistem trading otomatis mengingatkan pada seorang ksatria dari abad pertengahan yang rela membayar kepada seorang alkemis demi sebuah rahasia tentang cara mengubah logam biasa menjadi emas.

Perilaku manusia, dengan segala kompleksitasnya, tidak ingin dirinya digantikan atau dikendalikan oleh sebuah sistem otomatis. Program komputer tidak akan pernah bisa menggeser kedudukan seorang guru, atau sistem akuntansi berbasis komputer tidak akan menyebabkan pengangguran massal di kalangan para akuntan. Sebagian besar aktivitas manusia membutuhkan kemampuan dalam mengambil sebuah keputusan–di mana secara parsial komputer memang dibutuhkan, tetapi tetap tidak akan pernah bisa sepenuhnya menggantikan kedudukan manusia.

Jika Anda berhasil mengendalikan sebuah sistem otomatis, mungkin Anda sudah mengajukan pensiun Anda lebih dini lalu pergi ke Tahiti dan menjalani sisa hidup Anda dengan sebuah kemewahan, menggunakan cek dari broker Anda tanpa batas. Namun, sejauh ini satu-satunya orang yang telah sukses menghasilkan uang melalui sistemtrading otomatis ialah orang-orang yang berhasil menjual sistem tersebut. Mereka telah menciptakan ruang kecil yang sangat atraktif. Lalu, mengapa mereka malah sibuk menjual sistem tersebut? Bukankah lebih baik mereka berlibur ke Tahiti dan mengumpulkan cek dari para brokernya? Tentu saja para penjual ini mempunyai jawabannya masing-masing. Beberapa di antaranya lebih menyukai pemrograman daripada menghabiskan waktunya dengan trading di pasar keuangan. Sementara yang lain menjual sistem mereka hanya demi uang sebagai modal investasi mereka ke depannya.

Akan tetapi, kondisi pasar selalu berubah dan apa yang terjadi kemarin mungkin berbeda dengan hari ini. Seorang trader yang cakap selalu memeriksa metode-metodenya begitu melihat perubahan di pasar. Sistem otomatis tidak akan mampu melakukan penyesuaian yang dibutuhkan dan kemungkinan besar akan mengalami kegagalan.

Penggunaan sistem otopilot tentunya akan dikenakan tarif pembayaran yang besar. Hal ini dikarenakan pilot–tidak seperti komputer–dapat menangani situasi-situasi yang tak terduga. Misalnya, ketika sebuah pesawat yang sedang mengudara di atas samudra Pasifik mengalami kerusakan dan membutuhkan pendaratan darurat, atau ketika sebuah pesawat yang sedang terbang di atas Kanada tiba-tiba kehabisan bahan bakar, hanya manusia yang dapat menangani situasi-situasi seperti ini. Merelakan uang demi sebuah sistem otomatis sama halnya Anda meyakini sebuah kehidupan dengan sistem otopilot. Cara ini merupakan salah satu solusi yang baik, jika menimbang peristiwa-peristiwa yang tak terduga menghantam akun Anda.

Terdapat berbagai macam sistem bagus yang sudah beredar saat ini, tetapi harus dikontrol dengan sungguh-sungguh dan trading mereka harus diawasi. Anda tidak cukup mengaktifkannya saja, tetapi juga harus mengikuti terus seluruh prosesnya. (alp/als)

 

 

 

Sumber: alpari-forex.com, "Mitos dan Realitas Pasar Forex"

Share this post